Semesta Sekolahku

Bagaimana menjaga fitrah buah hati kita ?

Bagaimana menjaga fitrah buah hati kita ?

Seorang kakak iseng sama sang adik. Menggoda adik yang sedang main sendiri. Si adik ngga terima, dia melawan. Ngga jarang, akhirnya jadi sebuah pertengkaran yang lumayan seru, bahkan terkadang mereka saling pukul. Biasanya, dua-duanya akhirnya menangis. Tapi dapat kita lihat beberapa saat kemudian……….si kakak akan dengan sangat ramah memberikan adiknya kue miliknya, dan sang adik akan menerima kue itu dengan senyum ceria…..terhapus sudah pertengkaran diantara mereka. Mereka akan kembali bermain bersama tanpa membahas masalah dendam dan sakit hati. Itulah Fitrah.

Fitrah suci dari dosa (al-fitrahfi al-dzunub), : ketika manusia terlahir kedunia manusia dalam keadaan suci dan bersih tanpa noda dan dosa. Sesuai hadist yang dari Abu Hurairah : Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanya yang menjadikannnya Yahudi atau Nasrani atau majusi ( H.R. Muslim )
Kanak-kanak yang masih polos itu, fitrahnya belum terhijab/tertutup dengan nafsu-nafsu yang menyesatkan. Fitrahnya masih cemerlang berkilau, fitrahnya masih jadi pantulan dari sifat-sifat Ilahiyah. Betapa jasmani dan ruhaninya masih dituntun oleh Dia untuk senantiasa pasrah dan tergerak oleh tuntunannya.

Bagaimana bayi merah yang belum lagi satu jam dilahirkan, secara fitrah begitu didekatkan pada payudara sang ibu akan dengan lancar mencari sumber keluarnya asi. Mata indah sang bayi, menatap indah pada sang bunda…..seakan dia ingin mengucapkan beribu terima kasih dengan senyum indahnya.

Bayi yang kemudiaan dengan kepasrahannya yang total dan penuh mendapat rezeki no 1 dilingkungannya. Tanpa meminta, sang bayi mendapat tempat paling special. Orang-orang disekelilingnya akan senantiasa menjaga dan memberi pelayanan yang utama untuknya.

Jagalah agar fitrahnya tetap cemerlang. Dia akan tetap menuntun. Bayi yang kadang membuat kita orang tuanya terkaget-kaget. “Hai lihat deh, adik sudah bisa duduk !”…….belum lagi satu bulan…..”Tengok sini, adik sudah bisa berdiri !” sampai akhirnya ayah dan bunda akan tersenyum bahagia……”ayoo nak jalan kesini….kepelukan bunda “

Jelas sekali, kita sebagai orang tua menjadi saksi akan gerak-Nya. Anak-anak kita sudah dari ‘sononya’ penuh dengan potensi-potensi yang memang secara universal mempunyai fitrah ketauhidan. Fitrah yang menuntun mereka untuk terus mencari, merindu dan bila telah mengenal Dia….akan mencintai-Nya

Dalam surat Al-Araf ayat 172, jelas bahwa manusia sudah bertauhid , dekat dan makrifat dengan Allah. Makrifat adalah mengenal Allah, meyakini adanya Allah beserta dengan sifat-sifat kesempurnaan yang dimiliki oleh-Nya.Potensi tauhid ada pada setiap manusia sejak kita berada di alam arwah. Ini menjelaskan mengapa manusia yang menjaga fitrahnya akan selalu rindu untuk kembali bertemu dengan Allah.
Demikian juga di jelaskan dalam surah Ar Rum (30) ayat 30

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ
النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Dalam surat Ar Rum ayat 30 di jelaskan agar manusia menghadapkan dirinya kepada Allah. Dalam segala situasi dan kondisi kita tetap berada di jalan-Nya. Kita dengan jelas diperintahkan untuk selalu berhubungan dengan Allah. Keinginan berhubungan dengan Allah ini lebih nyaman jika dilandasi dengan rasa cinta kasih kita pada-Nya. Cinta kita pada Allah, kerinduan kita pada-Nya akan melahirkan kekuatan, kreatif, imajinatif , kerelaan berkorban. Sedangkan bila kita menyembah Allah karena rasa takut , membuat hidup senantiasa melelahkan dan tidak menggairahkan.

Dengan fitrah inilah, manusia akan dapat membedakan antara perbuatan yang baik dengan yang buruk. Hakikat tauhid dan kesalehan harus dimulai dan berakar kuat di dalam hati dan penalaran yang sehat, lalu diiikuti dengan pengamalan dan penampilan lahir. Fitrah ini juga yang menuntun manusia akan merasa tentram bila memihak pada kebenaran, kebaikan dan kesucian.
Sebaliknya, bila manusia melakukan yang bertentangan dengan fitrah ketauhidan ini, jiwanya akan merasa gelisah, merana, dan kehilangan ketentraman hati bila kita merasa Allah menjauh dari kita, dan kita tidak lagi merasakan tegur sapa- Nya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai orang tua…….

Tentunya sudah begitu banyak dibahas. Orang tua adalah uswah atau model nyata buat anak-anaknya. Orang tua adalah pintu pertama, yang membuat anak-anaknya mengenal Allah. Pintu utama yang akan menularkan vibrasi atau getaran jiwa dirinya yang juga begitu merindu dan cinta pada-Nya….

Seperti halnya hubungan anak dan orang tua, suatu hubungan alami yang penuh rasa cinta dan kasih sayang. Kita pasti menautkan cinta, perhatiaan dan sayang pada anak-anak kita….sebelum kita menerapkan berbagai macam aturan dan disiplin untuk mereka. Anak-anak menyadari dan meyakini bahwa semua aturan dan disiplin ini untuk kebaikan dirinya, setelah dia yakin akan cinta yang tulus dari orang tuanya.

Demikian juga hubungan dengan Allah. Kita berangkat dari mengenalkan buah hati kita pada-Nya. Sejak dari perencanaan siapa pasangan kita, masa kehamilan yang lebih membuat hubungan kita semangkin intim dengan sang Pencipta, dengan cara banyak menyebut dan memanggil nama-Nya…….

Dari waktu ke waktu, bahkan dari detik ke detik…..kita sebagai orang tua senantiasa memberi kesadaran pada jiwa buah hati kita untuk senantiasa merasakan dan menyadari kehadiran Allah. Kesadaran yang dituntunkan oleh agama Islam adalah kesadaran akan gerak yang hakiki (sumber dari segala sumber bergeraknya alam ini). Kita bawa jiwa anak-anak kita untuk menyadari bahwa adanya alam ini ada yang menciptakan, ada yang menggerakan……..

Melalui ‘rasa’ yang telah di aktifkan oleh Allah, sejak bayi berada dalam kandungan sang bunda, kita bertugas untuk terus menjaga benih rasa itu untuk tumbuh dan berkembang. Kita tentunya memberikan siraman ruhani dan limpahan pupuk kasih sayang yang akan membuat ‘rasa’ ini tumbuh subur dan menghasilkan buah yang akan menjadi karya terbaik bagi buah hati kita kelak.

Sebagai orang tua kita menyadari, hidayah bukan milik kita, sehingga kita ‘tidak bisa memberikannya pada anak-anak kita’. Hidayah adalah hak Allah, kepada hamba-hambanya yang terpilih. Hidayah adalah tuntunan, bimbingan dan petunjuk dan dorongan untuk menerima kebenaran dari Allah.

Disinilah letak usaha kita, kita mengajak buah hati kita untuk datang pada Allah. Mengenalkannya, aktif memanggil nama-Nya…..bersama permata hati kita, kita berdo’a , setiap sa’at senatiasa kita menghubungi Dia. Kita menghadirkan Allah dalam setiap aktifitas dan bersama buah hati kita merasakan Allah itu dekat…..bahkan kita memberi keyakinan pada mereka, “ Allah lebih menyayangi kalian dibandingkan dengan ayah dan bunda “

Timbulkan pada buah hati kita rasa percaya, rasa bergantung, rasa cinta dan rasa yakin Allahlah yang akan membimbing dan memberi hidayah pada diri mereka. Setelah itu kita pasrah dengan sepasrah-pasrahnya, menyerahkan semua persoalan pada Dia.

*******************************************

One comment on “Bagaimana menjaga fitrah buah hati kita ?

  1. semestasekolahku
    December 9, 2011

    ibu Lusy Fahmi dari Indonesia Homeschoolers

    maap bun numpang tanya ,..kebetulan saya punya 3 anak laki2 semua masing2 3th dan sikembar 1th,…kalo udah datang sesi berebut ramenya minta ampun ..begitu juga kalo ada acara rebutan umi…wuahhh benar2 rasanya saya orang yang harus super sabar..nah apakah saya dosa klo sewaktu2 saya emosi sampai nada tinggi krn sikakak ganggu adek? sampai dimana batasannya ? dan bagaimana biar anak2 bs tenang tanpa kekerasan dan mereka jg tidak trauma…?sementara saya dirumah hanya ber 2 dngan ART kami,..sang abah baru pulang kerja dimalam hari..terimakasih.
    December 6 at 1:51pm · Like

    Jawaban
    Bunda, perlu kita sadari sedalam-dalamnya, bahwa kebutuhan anak-anak kita akan bimbingan dan kasih sayang merupakan kebutuhan fitrah setiap anak. Dari segi kejiwaan mereka memerlukan, bahkan merindukan perlindungan dan pembinaan akhlak dari orang tua. Fitrah mereka untuk bermanja-manja, mendapat perhatian yang lebih dan suasana yang gembira dan bahagia bila ada umi dan abinya.

    Jadi, berdasarkan pengalaman saya…(soalnya kalau referensi ilmu mah minim sekali, apalagi literature) kita tidak berdosa, jika kita bersikap sedikit tegas pada balita kita. Bahkan kadang kita butuhkan. Bila tindakan sang kakak sudah terlihat membahayakan adiknya, kita beri dia peringatan yang tegas untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya.Hanya saja, perlu kita ingat….bahwa tindakan kita itu adil. Jangan ada dalam niatan kita untuk membeda-bedakan anak yang satu dengan anak yang lain. Karena hal ini akan terekam sangat dalam pada sianak. Berlakulah adil, karena fitrah manusia menginginkan keadilan.

    Disinilah, letak seninya menjadi orang tua. Yang pertama sabar, yang kedua sabar, yang ketiga juga sabar….musti banyak tabungan sabarnya ^___^ . Ciptakanlah suasana yang riang dan gembira dalam rumah. Bola, ada ditangan umi. Bahagia ada didalam diri umi. Pancarkan itu pada seisi rumah. Suasana santai penuh canda biarkan selalu dirasakan keluarga kita. Juga kita ajak asisten kita untuk ikut serta dalam getaran aura kebahagian kita. Libatkan dia untuk bermain bersama anak-anak kita. Biarkan anak-anak kita tertawa lepas, jungkir balik, atau kita sediakan sarana seperti lompat tali atau ayunan dan kegiatan lain yang mengaktifkan motorik kasarnya, memang kita harus siap isi rumah berantakan….tapi kemudian ajak kembali si anak membereskan kembali mainannya. Putra-putra bunda sedang dalam masa emas pembentukan otak.

    Karena pada usia tiga tahun pertama adalah masa dimana sel otak terus bertambah. Benih kemampuan, benih rasa, sedang tumbuh dan ada pada masa yang rawan.Tugas orang tua untuk memelihara dan menciptakan lingkungan yang kondusif buat tumbuh dan berkembangnya bibit –bibit itu.

    Pengalaman saya, saya banyak mengajak anak jalan-jalan keluar pada masa itu. Karena pengalaman begitu berharga buat perkembangan otaknya. Tidak usah jauh-jauh dari rumah, hanya saja diusahakan setiap hari berganti suasana. Hari senin lihat ayam, besok lihat kambing, besoknya lihat semut atau kupu-kupu…..sambil ngumpulin daun atau rumput untuk main tebak-tebakan. Bahasa kerennya kita menyeimbangkan antara aktivitas motorik halus dan aktivitas motorik kasar. Atau agar ada hubungan antara otak kiri ( yang mempunyai kemampuan analistis) dengan otak kanan (yang mempunyai kemampuan intuitif) Jika ini sudah terjalin dengan baik, Insya Allah dibarengi dengan do’a dan tawakal anak-anak kita akan tenang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 6, 2011 by .
%d bloggers like this: