Semesta Sekolahku

GURU…..OHHH GURU

GURU…..OHHH  GURU

 Motivasi seseorang menjadi guru, menjadi warna yang kental bagaimana dia kemudian bisa menjadi seorang pendidik. Ada beberapa guru yang bercerita didepan kelas, bagaimana dia memilih jurusan keguruan karena pelarian, dan pilihan terakhir karena tidak diterima  dijurusan yang dia inginkan. Guru-guru yang seperti ini, pada akhirnya banyal curcol ( curhat colongan) dihadapan murid-muridnya. Berkeluh kesah dihadapan anak didiknya, tentang hidupnya.

 Yang mungkin paling berdampak langsung dari guru semacam ini adalah sikapnya yang kurang mendidik. Dirasakan oleh anak didiknya, bagaimana rasanya dia tidak ikhlas memberikan ilmu yang memang harus dia berikan. Banyak mengungkit-ungkit hal-hal yang dia berikan, selalu mengeluh dan merasakan bahwa anak didiknya tidak menghargai apa yang telah dia lakukan.

Yang lebih parah lagi, guru-guru yang hanya dimotivasi oleh kepentingan materi. Idealismenya sebagai guru begitu tipis. Sedapat mungin dia berusaha bisa mengajar di sekolah-sekolah yang favorit, yang banyak mempunyai murid dari kalangan berada. Atau bahkan ketika dia sudah menjadi kalangan yang berkuasa dan bisa mengambil kebijakan disekolah itu, motivasi utamanya adalah uang.

Sekolah bukan lagi sebagai tempat untuk anak memperoleh pendidikan yang dalam tiap detiknya bertumbuh kebiasaan baik, yang kemudian melahirkan karakter-karakter yang baik. Tapi sekolah memperlakukan murid-murid yang harus mereka didik, menjadi konsumen-konsumen yang harus mereka layani, bak melayani seorang raja.

 Pangsa pasar mereka, memang anak-anak orang berada yang ngga kenal kata ‘susah’. Jadi sekolah dibuat senyaman mungkin. Gedung-gedung dibuat begitu nyaman, tempat bermain yang nyaman,  taman-taman yang asri. Serta guru dan pesuruh-pesuruh sekolah yang siap melayani mereka.

Dari rumah, mereka diantar supir yang membawakan tas mereka yang sarat dengan buku sampai kedepan kelas. Dikelas, mereka disambut oleh guru yang nampak begitu penuh unggah ungguh pada muridnya. Apalagi jika sang orangtua murid begitu pandai mengambil hati sang guru, dengan limpahan berbagai macam hadiah.

 Disekolah yang seperti ini, kita mendapati hal-hal yang mungkin bagi sebagian kita ganjil dan kurang kita mengerti ,kenapa mereka seperti itu mendidik murid-muridnya . Misalnya saat camping atau adanya suatu acara pelantikan disekolah, sedapat mungkin kita mengajarkan anak didik kita mandiri. Saat seperti ini, adalah saat dimana anak-anak akan berusaha menyiapkan segala kebutuhan mereka sendiri. Masak sendiri. Mendirikan tenda untuk diri mereka sendiri, dan lain-lain. 

Tapi ini tidak. Guru-guru tampak sibuk mendirikan tenda,  masak-masak  menyiapkan makan untuk murid-murid mereka yang sudah setingkat SLTP dan SLTA. Sang murid yang merupakan konsumen yang harus dimanjakan, tampaknya asik berfoto-foto…..ironi. 

Yang tidak kalah miris, dalam hukum rimba pendidikan dinegri kita adalah masalah guru-guru yang banyak melakukan ‘pungli’ terhadap murid-muridnya. Kertas ulangan yang satu lembar kertas ukuran polio, dipotong  jadi 4.  Lalu satu potongannya berisi soal-soal yang harus dibeli oleh peserta didiknya paling murah seharga  Rp 2000,00.Lucunya, ini harus dipulangkan lagi ke gurunya, untuk dipakai dikelas lain. Lumayan jugalah kalau si guru ngajar di lima kelas, dengan jumlah murid per kelas 40 anak.

Ini sih cerita-cerita yang kecil-kecilan aja. Kalau yang kakapnya sudah sering kita jumpai di banyak surat kabar, misalanya tentang anak-anak yang ngga ikut MOS tau-tau nongol di kelas. Padahal si A yang sepuluh kali lebih layak diterima di sekolah favorit itu, ngga ke terima. Yang sedih, dan semua warga kelas tau betapa dia nampak strees kelimpungan ngga bisa mengikuti pelajaran dikelas itu. Yang lagi jadi ‘ trending topik’ di Bekasi sihhh tentang anak-anak ‘ BL  (Bina Lingkungan).

Namun, tidak sedikit juga kita jumpai guru-guru yang meniti karirnya menjadi seorang  guru memang panggilan jiwanya. Guru-guru yang ikhlas membawa peserta didiknya meraih masa depan mereka. Guru-guru yang bisa membangunkan, serta mengaktifkan potensi yang dimiliki anak didiknya.

Menolong, memikirkan dengan sungguh-sungguh kesulitan-kesulitan anak didiknya. Membuka cakrawala berpikir mereka, membangun rasa percaya diri, dan menemukan keterampilan-keterampilan peserta didik yang nantinya akan sangat berguna bagi mereka.

Saya menjumpai, ada seorang guru yang dicintai murid-muridnya. Sang murid mengingat beliau  seperti layaknya pada kerabat bahkan orang tua.  “Kalau saya tidak dibimbing sama bapak ini, mungkin cerita hidup saya akan lain bu “ salah seorang muridnya yang sekarang sudah sukses bercerita.

Setidaknya kita bersama melangkah. Optimis menatap masa depan. Melakukan apa yang mungkin bisa kita berikan bagi negri ini. Minimal dari diri kita sendiri dahulu, memutus rantai kesalahan-kesalahan itu

About these ads

2 comments on “GURU…..OHHH GURU

  1. gery guritno
    February 2, 2013

    Mudah2an saya tdk termasuk guru yg demikian. amin

    • semestasekolahku
      February 3, 2013

      Insya Allah pa Gery, semoga Allah selalu menuntun langkah kita bisa menjadi bagian yg Dia ridhoi dalam membangun bangsa ini, karena saya begitu yakin guru berperan sangat besar dalam membentuk karakter bangsa ini, dan kita optimis langkah-langkah kecil kita akan memberi arti untuk Indonesia yang lebih baik, minimal dimulai dari keluarga kita dahulu…..

      Terima kasih pa Geri atas kunjungannya :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 24, 2012 by .
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 784 other followers

%d bloggers like this: