Semesta Sekolahku

CURUG CIGEUNTIS, CURUG INDAH DI KARAWANG JAWA BARAT

CURUG CIGEUNTIS, CURUG INDAH DI KARAWANG JAWA BARAT

 

 

 

Curug Cigeuntis, masuk kabupaten Karawang berbatasan denganBogordan Cianjur. Daerah yang terletak di gunung Sangga Buana ini masih cukup asri. Dari Bekasi kami berangkat jam 14.00 , melalui  tolJakarta–Cikampek.  Berbekal google map yang membimbing kami,  sangat membantu. Tapi ketika sudah memasuki wilayah pedesaan  yang mungkin bukan lagi jalan utama, om google mulai salah-salah , dan membuat kami nyasar beberapa kali. Pada akhirnya, harus turun naik mobil untuk bertanya pada warga setempat.

 

Setelah jalan yang kami lewati semakin kecil dan sempit, untuk mobil yang tetap dua arah harus hati-hati. Maka kita akan menjumpai jalan-jalan yang mulai menanjak.Pemandangan mulai beralih, dari persawahan dan bukit-bukit kapur yang diolah menjadi semen ( terlihat dampaknya dimusim kemarau, pohon-pohon tampak memutih tertutup debu semen ). Kita mulai menjumpai pemandangan khas daerah pegunungan. Hamparan sawah nan hijau, berbatasan dengan kaki gunung yang banyak ditumbuhi pohon pisang. “ Koq, gunung banyak pohon pisangnya mi  ? akar pohon pisangkan  ngga kuat. Ngga seperti pohon jati, mangga atau yang lainnya.”  Sarah bertanya.  “ Mungkin mereka tanam pohon yang cepat menghasilkan.Kalau jati lama memetik hasilnya.” Abih menerangkan, dan juga memberi pendapat yang menyayangkan bahwa penebangan hutan itu akan merusak keharmonisan alam dan seterusnya….dan seterusnya….

 

Wuihhh, akhirnya kita memasuki kawasan wisata Desa Mekarbuana. Jalan makin menanjak, dan cukup terjal. Kelokan tajam makin sering kami jumpai. Beberapa kendaraan kami lihat ngga berani nanjak. Mereka  memarkirkankendaraannya dirumah-rumah warga. Bang Ayif  yakin bahwa  Mitsubishi Kudanya sanggup naik sampai atas. Lumayan, kita ngga terlalu jauh berjalan kelokasi  Curug Cigeuntis. Karena kalau naik ojek, untuk sampai diatas biayanya kurang lebih Rp 25.000,- per motor. Sebab jalannya selain terus menanjak juga belum mulus, bahkan bisa dibilang terjal dan banyak batu-batu besar nongol ditengah-tengah jalan.

 

Kamipun masih harus berjalan menuju lokasi air terjun. Pemandangan  yang indah, suasana yang sejuk  mulai kita nikmati. Kami bermalam di  basecampnya pencinta alam UNISMA, untuk melanjutkan perjalanan ke air terjun esok harinya. Suasana malam, dengan  sejauh mata memandang suasana hutan begitu terasa. Suara jangkrik, tonggeret, tokek seakan bersahut-sahutan. Bahkan mungkin, kami dengar suara burung-burung malam, dan binatang-binatang lainnya. Suara gemercik air sungai dan pancuran menambah sahdu  suasana malam, yang bagi kami sudah jarang kami nikmati.

 

Tegar dan Zii, begitu menikmati. Seakan ngga ada rasa lelah, mereka begitu bersemangat Tanya ini dan itu tentang serangga –serangga yang mereka temui di lampu neon, yang ngga biasa ada dirumah. Bermain dengan kunang-kunang yang banyak menghampiri cahaya. Teteh2  mah, udah tepar sehabis makan malam.

 

Esoknya, kami meneruskan lagi petualangan kami. Belum keair terjun. Tapi kita ke sungai dulu, yang ngga jauh dari lokasi kami bermalam.  Saya ngga habis pikir , Zii dan Tegar begitu lincah jalan, bahkan berlari dipematang sawah . Seakan hal itu sering mereka lakukan. Sedangkan kita-kita, harus begitu hati-hati  dan tertatih-tatih. Setelah menyusuri sawah, dan harus menembus lembah yang jalannya lumayan sulit kami sampai di sungai….

.

 

Puas foto-foto di  sungai, kita harus naik lagi dari lembah itu menuju jalan utama. Baru kemudian mendaki lagi  (rasanya seperti pendaki gunung beneran aja, padahal penduduk setempat yang udah pada sepuh, ringan banget bawa beban kayu bakar atau sekeranjang penuh pisang dipunggungnya). Kita mah, bawa diri aja lumayan terengah-engah. Belum lagi sepanjang perjalanan banyak warung-warung makan, yang bawaanya bikin mau istirahat mulu. Pertama ngopi dulu, masih pagi buta, belum tersedia sarapan. Jalan lagi, sudah hamper jam 7.30 , mampir lagi….sarapan….jalan lagi.  Pokoknya untuk sekedar makan , banyak warung-warung yang menyediakan menu-menu masakan sunda. Bisa juga  bagi yang kurang selera masakan sunda, berbekal lauk matang dari rumah. Nasi hangat akan banyak kita jumpai disana.

 

Akhirnya, setelah lumayan keringetan….sampai juga di Curug Cigeuntis. Belum Lagi jam 9.00 kita tiba disana. Masih sepi, tapi untuk main air dinginnya masih terasa. Tegar Zii mah udah ngga sabar, langsung nyebur aja.


.

 

Terlihat air terjun  yang indah. Suasana pagi yang masih berkabut, percikan air memancar dari air terjun seakan memberi rasa sejuk dalam jiwa. Kawasan ini masuk dalam hutan lindung, yang diharapkan terjaga keasliannya. Keanekaragaman hayati, seperti jenis-jenis pohon, serangga, burung-burung, monyet-monyet dan lain-lain, masih bisa kita nikmati.

 

Semoga kita semua bisa menjaga kelestarian dan keindahan alam yang Tuhan titipkan pada orang Karawang ini, untuk diolah menjadi kawasan wisata yang berpegang pada prinsip menjaga amanah untuk tidak merusaknya, demi keuntungan sesaat.

 


 

 

   

http://semestasekolahku.files.wordpress.com/2012/07/dsc_2204.jpg”>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 11, 2012 by .
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 784 other followers

%d bloggers like this: